HUJAN baru saja reda di kawasan Sudirman ketika kabar samar beredar dari balik kaca gedung sekuritas, kabar yang pelan-pelan berubah menjadi bisik-bisik suram.
Di meja kerja Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, dan Pemeriksaan Khusus Otoritas Jasa Keuangan (OJK), I. B. Aditya Jayaantara, tumpukan berkas mendarat, membawa cerita tentang hilangnya dana yang seharusnya aman tersimpan.
Nominal yang disebut, Rp70 miliar, bukan angka kecil bagi pasar modal yang selama ini ditopang rasa percaya, angka itu membuat napas pengawas sempat tertahan.
Rekening Dana Nasabah Jadi Benteng yang Mulai Retak
Rekening Dana Nasabah (RDN) dibentuk untuk menjamin pemisahan dana investor dari operasional korporasi sekuritas, ia ibarat brankas digital yang tak boleh bocor.
Namun kabar yang beredar menyebut anak usaha PT Panca Global Kapital Tbk (PEGE), yaitu PT Panca Global Sekuritas, menjadi korban pembobolan dana nasabah.
Dugaan awal mengarah pada modus lewat layanan digital BCA Klik Bisnis, jalur transaksi yang selama ini diyakini punya benteng keamanan berlapis.
OJK tak menunggu lama, Aditya menggelar rapat koordinasi dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Pertanyaan menggantung di ruang rapat itu: siapa yang salah, di mana celahnya, dan bagaimana nasib uang investor yang raib begitu saja.
Gelombang Kejahatan Siber di Balik Dunia Keuangan Digital
Kasus ini bukan cerita pertama, sebelumnya beberapa bank dan platform digital juga dihantam isu serupa, tetapi kali ini bobotnya berbeda dan lebih menohok.
Modus diduga memanfaatkan jalur BCA Klik Bisnis menandai naik kelasnya para pelaku kejahatan siber yang kini menargetkan infrastruktur inti.
Bank Central Asia (BCA) lewat manajemennya menegaskan sistem internal tetap aman, dilengkapi standar keamanan berlapis serta mitigasi risiko yang ketat.
“BCA berkomitmen penuh mendukung investigasi, memastikan transaksi perbankan berjalan dengan prinsip kehati-hatian,” kata manajemen BCA dalam keterangan resmi kepada media.
Meski begitu, pernyataan itu belum cukup menenangkan, sebab pertanyaan besar masih menggantung: jika sistem aman, mengapa rekening bisa dibobol.
OJK Dorong Sinergi untuk Lindungi Kepercayaan Investor
Bagi OJK, kasus ini adalah momentum kritis yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan klarifikasi teknis semata, karena menyangkut fondasi kepercayaan publik.
“Koordinasi lintas otoritas akan terus dilakukan agar perlindungan investor terjamin, sekaligus menutup celah keamanan yang ditemukan,” ujar I. B. Aditya Jayaantara, OJK.
Pasar modal tak bisa berdiri tanpa rasa aman, sebab investor hanya melihat angka di layar, sementara struktur rumit di baliknya sangat rentan guncangan.
Kehilangan dana dalam RDN berarti benteng terakhir sudah retak, dan bila itu terjadi, maka hilang pula fondasi kepercayaan yang menopang ribuan investor.
Bagi regulator, tugas ke depan bukan hanya menyelesaikan kasus ini, melainkan memastikan tak ada lagi ruang gelap yang bisa dimasuki peretas.
Sejarah Kelam Kasus Kehilangan Dana Investor di Indonesia
Isu dana nasabah hilang sebenarnya berulang kali menghantui sektor keuangan, dari kasus bank konvensional hingga platform digital, selalu jadi “dongeng horor”.
Pembobolan rekening senilai Rp70 miliar di BCA membuat geger lantai bursa, investor resah, dan regulator dikejar tuntutan bertindak cepat.
Kasus pembobolan rekening oleh seorang tukang becak pun pernah memaksa OJK turun tangan menggelar pemeriksaan.
OJK segera memanggil pihak-pihak terkait untuk membedah alur transaksi, dari nasabah hingga bank kustodian yang menampung dana.
Semua cerita itu menjadi alarm, bahwa era digital menghadirkan kemudahan sekaligus membuka celah baru bagi kejahatan finansial yang kian canggih.
Jalan Panjang Membangun Kepercayaan yang Telanjur Terkikis
Kehilangan dana investor adalah kehilangan rasa aman, dan rasa aman adalah syarat mutlak agar pasar modal terus berdenyut dengan sehat.
OJK, BEI, KSEI, hingga korporasi sekuritas mesti duduk bersama, bukan sekadar menyusun laporan, tetapi memperkuat pondasi keamanan yang rawan goyah.
Investigator akan menelusuri alur transaksi demi menemukan titik rentan, namun lebih dari itu, publik butuh jawaban yang lugas dan transparan.
“Investor menanti tindakan nyata, bukan sekadar janji, sebab kepercayaan hanya bisa dipulihkan dengan bukti perlindungan,” ujar seorang analis pasar modal.
Bagi ribuan investor ritel, kasus Rp70 miliar ini lebih dari sekadar angka, ia adalah pertanyaan besar: masihkah uang mereka benar-benar aman di RDN.****
Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Infobumn.com dan Bisnisnews.com.
Simak juga berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media Adilmakmur.co.id dan Hallokampus.com.
Informasi nasional dari pers daerah dapat dimonitor langsumg dari portal berita Nusraraya.com dan Jakartaoke.com.
Untuk mengikuti perkembangan berita nasional, bisinis dan internasional dalam bahasa Inggris, silahkan simak portal berita Indo24hours.com dan 01post.com.
Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News. Terima kasih.
Kami juga melayani Jasa Siaran Pers atau publikasi press release di lebih dari 175an media, silahkan klik Persrilis.com
Sedangkan untuk publikasi press release serentak di media mainstream (media arus utama) atau Tier Pertama, silahkan klik Publikasi Media Mainstream.
Indonesia Media Circle (IMC) juga melayani kebutuhan untuk bulk order publications (ribuan link publikasi press release) untuk manajemen reputasi: kampanye, pemulihan nama baik, atau kepentingan lainnya.
Untuk informasi, dapat menghubungi WhatsApp Center Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI): 085315557788, 087815557788.
Dapatkan beragam berita dan informasi terkini dari berbagai portal berita melalui saluran WhatsApp Sapulangit Media Center





