Perjanjian CEPA Indonesia-Uni Eropa hapus tarif 94% komoditas, target ekspor naik 12–15% per tahun.
Komoditas unggulan seperti perikanan, tekstil, kopi, dan organik diproyeksi mendominasi pasar Eropa.
Pemerintah siapkan strategi industri hijau, sertifikasi mutu, dan promosi global untuk hadapi regulasi ketat.
INDONESIA resmi menandatangani perjanjian Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan Uni Eropa pada Mei 2025 untuk meningkatkan perdagangan bebas tarif secara signifikan.
Perjanjian ini mencakup penghapusan tarif hingga 94% produk Indonesia, memberi peluang ekspor lebih besar bagi pelaku usaha nasional.
Zulkifli Hasan pernah mengatakan kesepakatan ini bisa mendongkrak nilai ekspor Indonesia ke Uni Eropa hingga USD 12,4 miliar per tahun.
“Ini adalah lompatan besar untuk ekspor kita, khususnya komoditas unggulan seperti perikanan, tekstil, dan pertanian,” ujarnya.
Saat ini, nilai perdagangan Indonesia-Uni Eropa mencapai USD 30,8 miliar dengan surplus kecil untuk Indonesia sebesar USD 1,2 miliar pada 2024.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Uni Eropa merupakan mitra dagang terbesar keempat Indonesia setelah Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang.
Ekspor Indonesia ke Uni Eropa pada 2024 tercatat sebesar USD 15,5 miliar dengan pertumbuhan rata-rata 7% per tahun dalam lima tahun terakhir.
Dengan perjanjian CEPA ini, pertumbuhan ekspor ke Uni Eropa ditargetkan naik menjadi 12–15% per tahun hingga 2027 mendatang.
Menurut Komisi Eropa, Indonesia berpotensi menguasai 3% pangsa pasar impor Uni Eropa dalam kategori produk pertanian dan perikanan.
Perjanjian ini juga mempermudah pelaku UMKM untuk memasarkan produk karena prosedur kepabeanan disederhanakan dengan biaya logistik lebih rendah.
Komoditas Ekspor Unggulan Indonesia Berpeluang Besar Menembus Pasar Eropa Lebih Luas
Produk perikanan menjadi salah satu komoditas utama yang diproyeksikan melonjak pasca kerja sama, dengan target ekspor mencapai USD 3,2 miliar pada 2026.
Produk tekstil dan alas kaki juga mendapat prioritas karena Uni Eropa adalah konsumen utama dengan permintaan sebesar USD 200 miliar per tahun.
Sektor pertanian seperti kopi, kakao, rempah, dan minyak kelapa sawit juga berpotensi tumbuh signifikan dengan nilai ekspor ditargetkan naik 20% pada tahun pertama.
“Pasar Eropa sangat besar untuk produk ramah lingkungan, jadi kita dorong ekspor produk organik,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo di laman resmi BI.
Tren konsumen Eropa yang lebih sadar lingkungan membuat permintaan terhadap produk bersertifikasi organik dari Indonesia naik rata-rata 18% per tahun sejak 2022.
Sementara itu, furnitur dan kerajinan tangan Indonesia juga mendapat sambutan positif di pasar Eropa dengan nilai ekspor mencapai USD 1,1 miliar pada 2024.
Produk olahan makanan juga semakin diminati karena kualitas produksi Indonesia sudah memenuhi standar keamanan pangan yang ketat.
Menurut Trade Map, lima komoditas unggulan Indonesia ke Uni Eropa saat ini adalah minyak sawit (USD 3,8 miliar), perikanan (USD 2,6 miliar), kopi (USD 1,4 miliar), tekstil (USD 1,2 miliar), dan alas kaki (USD 900 juta).
Dengan adanya penghapusan tarif hingga 94% produk ekspor, komoditas ini diproyeksikan mendominasi pasar Eropa dalam dua tahun ke depan.
Pemerintah pun memfasilitasi pelatihan bagi UMKM untuk memanfaatkan peluang besar ini dan meningkatkan kualitas produk sesuai standar Eropa.
Strategi Nasional untuk Menghadapi Tantangan Regulasi Ketat Pasar Uni Eropa
Pemerintah menyadari tantangan besar bagi pelaku usaha Indonesia dalam memenuhi regulasi ketat Uni Eropa, khususnya terkait keberlanjutan lingkungan.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menegaskan pentingnya transformasi industri hijau untuk menjamin daya saing produk di pasar Eropa.
“Kita harus memastikan produk Indonesia memenuhi standar sustainability, traceability, dan circular economy,” ujarnya dalam rapat kerja.
Program nasional sertifikasi lingkungan, pelatihan manajemen mutu ISO, dan bantuan teknologi hijau telah disiapkan untuk industri kecil hingga besar.
Pemerintah juga memperkuat konektivitas logistik dengan pelabuhan berstandar internasional untuk mendukung arus ekspor lebih efisien.
Selain itu, Indonesia melalui ITPC (Indonesian Trade Promotion Center) memperluas promosi produk ke berbagai kota besar di Uni Eropa.
Diplomasi dagang juga diperkuat melalui atase perdagangan di Brussels, Berlin, Paris, dan Roma untuk mempermudah distribusi informasi pasar.
Pelaku UMKM didorong untuk mendaftar ke platform e-commerce internasional seperti Etsy, Amazon, dan Zalando yang sudah populer di Eropa.
Pemerintah menetapkan target minimal 50 ribu UMKM bisa masuk pasar Uni Eropa dalam kurun waktu tiga tahun sejak perjanjian berjalan.
Dengan strategi menyeluruh ini, Indonesia optimistis bisa mempertahankan surplus perdagangan sekaligus memperluas pangsa pasar global.***




