Konsumsi Rumah Tangga Topang Ekonomi Indonesia, Pertumbuhan Kuartal II Tembus 5,12%

Lonjakan konsumsi pada momen libur dan hari besar jadi penopang, namun tantangan industrialisasi dan ekspor masih perlu perhatian jangka panjang.

- Jurnalis

Rabu, 6 Agustus 2025 - 07:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

5. Dr. Handi Risza: Pertumbuhan ekonomi harus ditopang strategi jangka panjang, bukan hanya faktor musiman. (Facebook.com @Dr Handi Risza SE, MEc )

5. Dr. Handi Risza: Pertumbuhan ekonomi harus ditopang strategi jangka panjang, bukan hanya faktor musiman. (Facebook.com @Dr Handi Risza SE, MEc )

DI TENGAH narasi global yang banyak dipenuhi kekhawatiran soal perlambatan ekonomi, Indonesia justru menyuguhkan kejutan di triwulan II 2025.

Momentum ini tidak datang tiba-tiba. Di balik lonjakan pertumbuhan, ada sinyal kuat dari dapur rumah tangga dan ruang investasi yang mulai menghangat lagi.

Fakta ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan bahwa daya beli publik belum padam dan pelaku usaha mulai kembali percaya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,12% pada kuartal II-2025 secara tahunan (yoy), lebih tinggi dibanding kuartal I yang sebesar 4,87% dan kuartal II tahun lalu yang tercatat 5,05%.

Angka ini membawa Indonesia bertahan di atas level psikologis 5%, yang sering dijadikan benchmark optimisme nasional.

“Capaian ini membalik banyak prediksi pesimis terhadap kinerja ekonomi nasional,” ujar Dr. Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina, kepada media di Jakarta, Senin (5/8/2025).

Konsumsi Rumah Tangga Jadi Motor Utama, Tapi Musiman

Kinerja ekonomi pada triwulan ini didorong terutama oleh konsumsi rumah tangga, yang menyumbang 2,64 poin persentase dari total pertumbuhan nasional.

Angka ini setara 54,25% dari total PDB Indonesia, menunjukkan bahwa kekuatan domestik masih menjadi tumpuan utama ekonomi.

Menurut Dr. Handi Risza, faktor musiman seperti libur nasional dan hari besar keagamaan menjadi pendorong utama.

“Mobilitas meningkat, belanja makanan dan minuman naik, serta wisata lokal menggeliat. Konsumsi melonjak karena momen Idul Fitri, Waisak, dan Idul Adha,” jelasnya.

BPS juga menyebutkan, hari libur nasional sepanjang April hingga Juni 2025 mencapai 10 hari kerja, mendorong banyak keluarga mengalokasikan pengeluaran tambahan.

Namun, ketergantungan pada pola konsumsi musiman mengandung risiko jangka panjang jika tidak diimbangi dengan motor pertumbuhan lain.

Investasi dan Konstruksi Mulai Bergerak, Tapi Butuh Dukungan Ekosistem

Sisi lain yang memberi angin segar adalah investasi melalui Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), yang berkontribusi 2,06 poin terhadap PDB dengan porsi 27,83%.

Peningkatan ini didorong oleh belanja modal swasta di sektor logistik, properti, dan alat transportasi.

Sektor konstruksi juga mulai menunjukkan geliat, menyumbang 0,47 poin terhadap pertumbuhan, menandai adanya proyek-proyek besar yang kembali aktif.

Namun para analis memperingatkan pentingnya menjaga momentum ini melalui kepastian hukum, penyederhanaan perizinan, dan penguatan insentif investasi.

Lembaga riset CEIC Data menyebutkan bahwa aliran FDI Indonesia pada semester I-2025 naik 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menandai pergeseran positif dari investor luar negeri

Industri Manufaktur Masih Tertekan, Pemerintah Diminta Gerak Cepat

Meski konsumsi dan investasi tumbuh, sektor industri manufaktur belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang kokoh.

Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Juli 2025 hanya berada di angka 49,2 — masih berada di zona kontraksi (di bawah 50,0).

“Manufaktur belum bangkit. Tekanan harga input dan lemahnya permintaan jadi hambatan,” kata Jingyi Pan, ekonom senior S&P Global Market Intelligence, dikutip dari laporan resmi S&P Global.

Sejak April, PMI Indonesia konsisten berada di bawah 50, mencerminkan lemahnya pesanan baru dan aktivitas produksi.

Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan tidak terjadi merata, dan perlu langkah kebijakan yang lebih agresif untuk mendorong industri strategis kembali produktif.

Menurut Kementerian Perindustrian, mereka telah menyiapkan insentif fiskal baru untuk industri padat karya, termasuk fasilitas tax allowance dan pelatihan tenaga kerja berbasis vokasi.

Momentum Positif Belum Cukup, Butuh Transformasi Ekonomi Jangka Menengah

Dr. Handi Risza menekankan pentingnya menjadikan pertumbuhan ekonomi ini sebagai batu loncatan, bukan tujuan akhir.

“Kita tidak boleh puas dengan pertumbuhan yang hanya digerakkan musim liburan. Yang dibutuhkan adalah struktur ekonomi yang tahan guncangan,” jelasnya.

Ia menyebutkan bahwa fokus ke depan harus diarahkan pada penguatan sektor ekspor, peningkatan produktivitas industri, dan pembukaan lapangan kerja baru di sektor teknologi dan ekonomi hijau.

Data BPS menunjukkan kontribusi ekspor barang dan jasa masih relatif kecil, sekitar 1,1% terhadap pertumbuhan.

Sektor perdagangan dan informasi komunikasi menunjukkan potensi tumbuh berkelanjutan, dengan kontribusi masing-masing 0,70% dan 0,53%.

Sektor digital, yang tumbuh konsisten pascapandemi, dinilai bisa menjadi tulang punggung ekonomi baru jika diberi dukungan kebijakan yang tepat.***

Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Infopeluang.com dan Ekonominews.com.

Simak juga berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media Arahnews.com dan Prabowonews.com.

Informasi nasional dari pers daerah dapat dimonitor langsumg dari portal berita Hallokaltim.com dan Apakabarbogor.com.

Untuk mengikuti perkembangan berita nasional, bisinis dan internasional dalam bahasa Inggris, silahkan simak portal berita Indo24hours.com dan 01post.com.

Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News. Terima kasih.

Kami juga melayani Jasa Siaran Pers atau publikasi press release di lebih dari 175an media, silahkan klik Persrilis.com

Sedangkan untuk publikasi press release serentak di media mainstream (media arus utama) atau Tier Pertama, silahkan klik Publikasi Media Mainstream.

Indonesia Media Circle (IMC) juga melayani kebutuhan untuk bulk order publications (ribuan link publikasi press release) untuk manajemen reputasi: kampanye, pemulihan nama baik, atau kepentingan lainnya.

Untuk informasi, dapat menghubungi WhatsApp Center Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI): 085315557788, 087815557788.

Dapatkan beragam berita dan informasi terkini dari berbagai portal berita melalui saluran WhatsApp Sapulangit Media Center

Berita Terkait

PR Newswire – PSPI Resmikan Kerja Sama Distribusi Press Release dengan Jangkauan Nasional
BCA Hadapi Isu Dana Investasi Rp70 Miliar, Sistem Berlapis Dijaga Ketat
Belanja Negara Melambat di Triwulan III, Menkeu Purbaya Tetap Yakin Ekonomi Pulih
Dampak Global Terasa, CSA Index September 2025 Terkoreksi Tajam
Arah Baru Fiskal Indonesia: Prabowo Tunjuk Purbaya Jadi Menteri Keuangan
Mengundang Jurnalis Ekonomi Bukan Sekadar Kirim Undangan Biasa
Dari Biodiversitas ke Ketahanan Pangan, Gene Bank Indonesia Dimulai
Galeri Foto Pers Jadi Strategi Komunikasi Visual Perusahaan Modern

Berita Terkait

Selasa, 18 November 2025 - 14:32 WIB

PR Newswire – PSPI Resmikan Kerja Sama Distribusi Press Release dengan Jangkauan Nasional

Minggu, 14 September 2025 - 05:20 WIB

BCA Hadapi Isu Dana Investasi Rp70 Miliar, Sistem Berlapis Dijaga Ketat

Sabtu, 13 September 2025 - 08:02 WIB

Belanja Negara Melambat di Triwulan III, Menkeu Purbaya Tetap Yakin Ekonomi Pulih

Sabtu, 13 September 2025 - 00:20 WIB

Dampak Global Terasa, CSA Index September 2025 Terkoreksi Tajam

Selasa, 9 September 2025 - 09:28 WIB

Arah Baru Fiskal Indonesia: Prabowo Tunjuk Purbaya Jadi Menteri Keuangan

Berita Terbaru